ANALISIS PERSONALITY DAN PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA
REMAJA DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK
KELAS II KOTA PEKANBARU
Nur Ayu Rahmadani¹,Wardah²
S1 Keperawatan, STIKes Payung Negeri Pekanbaru, Jl. Dahlia Gg. Irian no.158

ABSTRACT
Personality an individual forms the way a person responds to an event that is unique, dynamic, emotionally accompanied by cognitive, and shows the individual's way of managing his psychological well-being. The psychological well-being obtained by an individual from his positive evaluation of the past, present, and future shows that the individual is able to reflect on an event that occurs after overcoming the problem / self problem so as not to cause emotional symptoms of stress and depression in the individual. Personality type has five personality dimensions, namely agreeableness, opposition to experience, extraversion, consentiousness, neuroticism. The welfare condition of individual psychology in adolescents has the acceptance of strengths and weaknesses in themselves as they are, have good life goals, are able to control the environment positively and directed. The purpose of this study was to determine the description of Personality and Psychological Well Being in adolescents that are quantitative in descriptive design. Conducted at the Special Class II Guidance Institution of Pekanbaru City in May 2019. The number of respondents was 172 people with the sampling technique was purposive sampling. Thepicture personality in the majority of LPKA has a dimension of agreeableness of 104 people (60.5%). The picture of the psychological well beingpsychological well-being majority has awhich is 93 people (54.1%). It is recommended for further research, to use more complex research methods by looking at the relationships and the most influential factors to see the personality and psychological well being in the Special Class II Child Development Institution in Pekanbaru City.

Keywords         : adolescents, personality, psychological well being
References       : 47 sources (1989 - 2019)

PENDAHULUAN

Kebahagian adalah keinginan bagi setiap manusia tidak terkecuali bagi seorang remaja. Kebahagiaan memiliki arti bahwa keadaan dan perasaan seorang individu yakni berada dalam keadaan senang, tentram, bebas dari segala sesuatu yang menyusahkan dan tekanan. Konsep kesejahteraan psikologis individu dimana mampu untuk menerima diri, mencapai aktualisasi diri, penguasaan sosial dan mencapai pengembangan kepribadian. Aspek-aspek dapat di nilai dari dimensi penerimaan diri (self acepptance), hubungan positif dengan orang lain (positive relation with other people), memiliki kemandirian (autonomy), mampu mengontrol lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life), dan pertumbuhan diri (personal growth) (Gao, 2018).
Psychological Well Being pada diri individu berpotensi memberikan perkembangan psikologi konsep diri, perkembangan inteligensi, perkembangan sosial, perkembangan peran gender, perkembangan moral religi. Perubahan yang terjadi memungkinkan individu untuk menjadikan sebagai sebuah faktor pencegahan bagi perkembangan kepribadian yang maladaptif. Personality atau kepribadian menjelaskan sebuah perilaku yang terbentuk dalam beberapa analisis. Faktor trait yaitu openness to experience (pencarian, penghargaan dan pengalaman), conscientiousness (ketahanan, motivasi, kedisiplinan), extraversion (interaksi, aktivitas, dan kebutuhan stimulus), agreebeleness (orientasi seseorang terhadap rasa empati dan pada sikap permusuhan), neuroticism (penyesuaian, kestabilan emosi) (Engger, 2015).
Menurut World Health Organization (2015) Remaja adalah penduduk dengan rentang usia 10 hingga 19 tahun. Menurut Kementrian Kesehatan (2017), remaja adalah penduduk dengan rentang usia 10-18 tahun. Sementara itu, menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2017), rentang usia remaja adalah 10-24 tahun dan belum menikah. Sivagurunathan. et al, (2015) menyatakan bahwa prevalensi remaja di dunia berkisar kurang lebih berjumlah 1,2 miliar di seluruh dunia, dan sekitar 21% dari populasi India yang merupakan penduduk terpadat kedua di dunia atau terdapat satu remaja disetiap enam orang masyarakat. Di Indonesia, menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2016) penduduk remaja yang berusia 10-24 tahun berjumlah kurang lebih terdata 66,3 juta jiwa dari total penduduk sebesar kurang lebih 258,7 juta yang terdata, sehingga satu di antara empat penduduk disetiap lingkungan masyarakat adalah remaja.
Berdasarkan hasil penelitian World Health Organzation (2011), masalah mental emosional yang berkaitan dengan personality (kepribadian) bagian psikologi sebanyak 140 dari 1000 remaja diatas usia 15 tahun dan untuk usia 4-15 tahun mengalami masalah mental emosional sebanyak 104 dari 1000 anak. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2017) indeks kesejahteraan psikologi penduduk remaja dengan usia dibawah 24 tahun. Memiliki 2 indikator yaitu makna hidup dengan penerimaan diri 77,27%, tujuan hidup 80,71%, hubungan positif dengan orang lain 70,39%, penguasaan lingkungan 75,52%, kemandirian 70,98%, dan pengembangan diri 67,86%. Indicator kepuasan hidup pada remaja dengan lingkungan keluarga 67,87%, kegiatan sosial 69,27% dan pendidikan 60,84%. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan undang-undang mengatur tentang perlindungan pada individu dibawah usia 18 tahun dan belum menikah. KPAI telah mencatat 4.885 kasus tindak pidana dan pelanggaran anak diatas 15 tahun. Jumlah ini meningkat dibandingkan pada tahun 2017 yang mencapai angka 4.579 kasus. Jumlah kasus (remaja) anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) masih menduduki urutan pertama, yaitu mencapai 1.434 data kasus, disusul dengan kasus terkait keluarga dan pengasuhan alternatif mencapai 857 kasus.  Selanjutnya, pornografi dan siber mencapai 679 kasus, pendidikan berjumlah 451 kasus, kesehatan dan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza) mencapai 364 kasus, trafficking dan eksploitasi dan mencapai 329 kasus di dominasi oleh remaja siswa pelajar SMP dan SMA baik negeri dan swasta.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan rancangan atau desain penelitian deskriptif yaitu dimana penelitian ini hanya untuk mengetahui analisis personality dan psychological well being pada remaja di lembaga pembinaan khusus anak kelas II pekabaru. Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan suatu fenomena yang terjadi didalam masyarakat (Notoatmojo, 2012).
Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Lapas khusus anak kelas II Kota Pekanbaru. Hal ini dikarenakan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru ini merupakan satu-satunya lapas tempat semua anak yang bermasalah yang ada di Provinsi Riau dengan hukum pidana negara.

HASIL PENELITIAN
Penelitian telah dilakukan pada tanggal 20 Mei - 17 Juni 2019 tentang analisis personality dan psychological well being pada remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 172 remaja didapatkan hasil penelitian sebagai berikut.
Analisa Univariat
Analisa univariat digunakan untuk menjabarkan secara deskriptip mengenai distribusi frekuensi dan proporsi masing-masing variabel yang diteliti, baik variabel bebas maupun varibel terikat.
1.      Karakteristik Responden
a.       Umur Responden
Tabel 4.1
Distribusi Responden berdasarkan Umur di Lembaga Pembinaan
Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Umur
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Remaja Awal (10-14 Tahun)
1
6
Remaja Pertengahan
(15-19 Tahun)
98
57,6
Remaja Akhir (20-24 Tahun)
73
42,4
Total
172
100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa sebagian besar remaja yang menjadi narapidana dan tahanan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru berada pada masa remaja pertengahan (usia 15-19 tahun) yaitu sebanyak 98 orang (57,6%).
b.      Jenis Kelamin
Tabel 4.2
Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
JK
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Laki-laki
128
74,4
Perempuan
44
25,6
Total
172
100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.2 didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 128 responden dengan persentase sebesar (74,4%).
2.      Data Khusus
a.       Personality
1)      Extraversion
Tabel 4.3
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Extaversion di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Extraversion
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Tinggi
93
54,1
Rendah
79
45,9
Total
172
100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan sebagian besar responden memiliki personality dengan karakteristik extraversion tinggi sebanyak 93 responden dengan persentase (54,1%).
2)      Agreeableness
Tabel 4.4
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Agreeableness di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Agreeableness
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Tinggi
104
60,5
Rendah
68
39,5
Total
172
100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan sebagian besar responden memiliki personality dengan karakteristik agreeableness tinggi sebanyak 104 responden dengan persentase (60,5%).
3)      Conscientiousness
Tabel 4.5
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Conscientiousness di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Conscientiousness
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Tinggi
89
51,7
Rendah
83
48,3
Total
172
100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan sebagian besar responden memiliki personality dengan karakteristik conscientiousness tinggi sebanyak 89 responden dengan persentase (51,7%).
4)      Neuroticism
Tabel 4.6
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Neuroticism di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Neuroticism
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Tinggi
88
51,2
Rendah
84
48,8
Total
172
100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.6 didapatkan sebagian besar responden memiliki personality dengan karakteristik neuroticism tinggi sebanyak 88 responden dengan persentase (51,2%).
5)      Openness to experience
Tabel 4.7
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Openness to experience di Lembaga Pembinaan
Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
Openness to experience
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Tinggi
103
59,9
Rendah
69
40,1
Total
172
100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.7 didapatkan sebagian besar responden memiliki personality dengan karakteristik neuroticism tinggi sebanyak 103 responden dengan persentase (59,9%).






b.      Psychological well being
Tabel 4.8
Distribusi Responden berdasarkan Psychological well being di Lembaga Pembinaan Khusus Anak
 Kelas II Kota Pekanbaru
Psychologi well being
Frekuensi (n)
Persentase (%)
Tinggi
93
54,1
Rendah
79
45,9
Total
172
100%
Sumber : Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.8 didapatkan sebagian besar responden memiliki psychological well being dengan karakteristik tinggi sebanyak 93 responden dengan persentase (54,1%).
PEMBAHASAN
1.        Karakteristik responden
Berdasarkan uji statistik dapat dilihat bahwa mayoritas usia di lembaga pembinaan khusus anak sebagian besar responden berada pada rentang usia 15-19 tahun sebanyak 98 orang (57,6%) dengan rata-rata berada pada usia 18 tahun (22,1%). Menurut Sarlito (2018) usia tersebut termasuk kedalam rentang usia remaja pertengahan (15-19 tahun), remaja awal (10-14 tahun) dan remaja akhir memasuki dewasa awal (20-24 tahun) dan belum menikah. Hal ini sejalan dengan Yuliyanto, (2016) dalam penelitian Badan dan Pengembangan Hukum dan HAM memaparkan bahwa anak yang berhadapan dengan hukum di LPKA Salemba berada pada usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun.
Sarlito (2018) usia tersebut sering disebut sebagai masa topan badai (strum and drang), yang mencerminkan kebudayaan modern yang penuh gejolak akibat pertentangan nilai-nilai. Usia remaja ini merupakan usia dimana terjadinya tahapan identity dan role confusion, adanya perubahan fisik biologis dan psikologis, mengakibatkan timbulnya perspektif bahwa remaja terlihat sebagai orang dewasa tetapi disisi lain belum mencapai masa dewasa. Masa remaja adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa, timbulnya egosentrisme untuk mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan menemukan pengalaman-pengalaman baru.
Menurut asumsi peneliti, terkait sebagian besar rata-rata remaja yang berusia 18 tahun di LPKA Kota Pekanbaru dikarenakan masa awalnya sebelum remaja memasuki LPKA lebih mendominasi sifat pencarian jati diri yang dominan terhadap egosentrisme negatif dalam mengenal diri sendiri terutama adanya pengaruh pada keadaan lingkungan sosial. Karakteristik remaja tersebut menimbulkan tingkah laku yang dapat melampaui batas tolerasi untuk orang lain atau lingkungan sekitar sehingga melanggar norma-norma dan hukum Negara. Faktor egosentrisme negatif pada usia tersebut dapat bersumber adanya perselisihan atau konflik, perceraian, sikap perlakuan anggota keluarga, dan pergaulan negatif yang tidak menghargai atau menerapkan nilai-nilai moral masyarakat. Usia tersebut berdampak pada keputusan-keputusan yang dibuat oleh remaja mengakibatkan berkurangnya kendali terhadap ego dan menyebabkan remaja berada pada masa sulit yang sering disebut sebagai kenakalan remaja yang dapat berhubungan dengan hukum Negara.
Distribusi karakteristik responden tentang jenis kelamin pada hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas berjenis kelamin responden laki-laki yaitu sebanyak 128 responden dengan persentase (74,4%) dan perempuan berjumlah 44 responden dengan persentase (25,6%). Menurut Ariyanto (2016) data hasil penelitian yang dilakukan di LPKA Blitar, menunjukkan bahwa remaja laki-laki lebih mendominasi di LPKA dari pada remaja perempuan.
Menurut asumsi peneliti, terkait jenis kelamin laki-laki mempunyai fungsi realisasi diri (entelechy) lebih menonjol dibandingkan perempuan dan sering memutuskan kehendaknya sendiri. Berbeda dengan perempuan, mereka cenderung untuk lebih berfikir terhadap reaksi jangka panjang akibat setiap keputusan yang ditentukannya.
Tingkah laku jenis kelamin laki-laki lebih implusif dalam berperilaku dikarnakan tidak mampu berfikir jernih ketika mengalami tekanan psikologis. Sementara itu perempuan lebih mampu mengontrol tindakan dan perilakunya dikarenakan perempuan lebih berhati-hati ketika dalam kondisi stress. Perempuan memiliki kecendrungan untuk memproses tekanan psikologis atau suatu kejadian dibandingkan laki-laki.
2.        Personality
Hasil penelitian menunjukkan bahwa personality remaja di LPKA Pekanbaru sebagian besar memiliki persentase yang sama tinggi secara signifikan yaitu tipe kepribadian yang tinggi terdapat pada dimensi agreeableness (60,5%) sebanyak 104 responden. Dimensi lainnya seperti openness to experience (59,9%) sebanyak 103 respoden, extraversion (54,1%) sebanyak 93 responden, conscientiousness (51,7%) sebanyak 89 responden, neuroticism (51,2%) sebanyak 88 responden. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh dimensi agreeableness sebagai kepribadian yang paling banyak dimiliki oleh remaja yang ada di LPKA. Tipe kepribadian ini memiliki bentuk upaya atau keadaan individu untuk merasa santai dan dapat bekerja sama dengan orang lain dalam kategori harmoni sosial. Mampu untuk mengontrol rasa curiga dan mampu untuk menilai keadaan kondisi psikologi dirinya.
Menurut asumsi peneliti, personality di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru tergolong bervariasi. Responden rata-rata mempunyai semua dimensi dari kepribadian (personality) dengan karakteristik yang tampak memiliki respon yang berbeda-beda. Hal ini dikarnakan adanya rasa penyesuaian adaptasi terhadap lingkungan nya dan realita kehidupannya. Dapat dilihat dari persentase kepribadian yang tinggi pada dimensi agreeableness, dimana setiap individu berupaya untuk menciptakan harmoni dalam dirinya terutama pada lingkungan baru yang individu alami.
Proses penyesuaian tersebut membutuhkan waktu yang berbeda-beda pada setiap remaja, dimana kondisi awal peneliti berasumsi bahwa remaja diawal memiliki kepribadian yang beragam. Di tambah lagi LPKA memiliki sistem pembinaan berbasis pendidikan noninformal dan formal, setiap LPKA akan melakukan pembinaan dan memiliki sistem tugas dalam mendidik karakter remaja sehingga masa remaja yang dilalui di LPKA dapat di lalui dengan lebih terkontrol oleh pihak yang berwenang sehingga dapat membentuk konsep diri remaja, membentuk sikap moral dan religi.
3.      Psychological well being
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat psychological well being yang tinggi yaitu sebanyak 93 orang (54,1%). Tingkat psychological well being rendah sebanyak 79 orang (45,9%). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Tenri, 2018) menyatakan hasil analisis dari psychological well being di LPKA memiliki karakteristik yang tinggi, bahwa individu mampu untuk menjalani kehidupan yang cukup baik mengenai aktivitas dan kesejahteraan hidup sehari-hari. Penelitian yang dilakukan oleh Yudianto, (2011) menyatakan bahwa narapidana yang telah menjalani masa tahanan lebih dari satu tahun cenderung memiliki penerimaan diri yang baik, hal ini dipengaruhi oleh dukungan oleh orang sekitarnya.
Adanya adaptasi dari psikologis kepribadian yang baik dilihat dari kepribadian agreeabelenss membentuk kesejahteran psikologis remaja yang lebih baik dari sebelumnya. Menyiapkan diri dari stigma negatif masyarakat tentang dirinya dan mempunyai harapan kembali melanjutkan hidup dan cita-cita setelah masa tahanan selesai. Karna sejatinya setiap individu merupakan makhluk sosial yang memiliki perkembangan terhadap kesejahteraan psikologisnya melalui adapatasi sosial. Berdasarkan hal tersebut bahwa sebagian besar kesejateraan psikologis tinggi di LPKA dikarenakan adanya proses adaptasi yang telah dilalui dengan konsep diri yang baik, kondisi fisik yang baik, serta kemandirian yang baik oleh sebagian besar individu di LPKA akan mempengaruhi kesejahteraan psikologis remaja. Di dalam LPKA dapat dilihat bahwa remaja diberikan pola pembinaan, pembentuk kepribadian, dan kemandirian terutama dalam penyesuaian diri lingkungan, penerimaan diri, memiliki hubungan dengan orang lain agar memiliki tujuan hidup secara berkala sehingga psikologi kesejahteraan dapat kembali terarah dan remaja dapat menyiapkan diri dengan memiliki tujuan hidup untuk melanjutkan masa depannya. Tingkat kesejahteraan diri remaja juga tidak terlepas dari dukungan anggota keluarga, sesama teman, terutama pertemanan yang telah tercipta selama di LPKA, dan juga dukungan dari para petugas LPKA sehingga berperan dalam peningkatan psychological well being remaja narapidana.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis personality dan psychological well being pada remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.    Responden di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru sebagian besar berusia pada rentang 15-19 tahun sebanyak 98 orang (57,6%) dengan rata-rata usia 18 tahun (22,1%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak 128 orang (74,4%).
2.    Hasil penelitian menunjukkan bahwa di LPKA sebagian besar personality dengan dimensi agreeableness sejumlah 104 orang (60,5%). Kepribadian (personality) dengan agreeableness menunjukkan bahwa responden di LPKA memiliki kepribadian yang dapat bekerja sama dengan orang sekitarnya terutama di LPKA dan mampu menciptakan orientasi personal dengan orang lain dalam kategori harmoni sosial sehingga mampu untuk mengontrol keadaan lingkungan.
3.    Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well being sebagian besar memiliki kesejahteraan psikologis tinggi 93 orang (54,1%). Kesejahteraan psikologis menunjukkan bahwa adanya penerimaan diri yang baik setelah menjalani masa tahan dalam kurun waktu tertentu sehingga responden dapat menerima kondisinya sesuai dengan keadaan yang dialami.
UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam penyelesaian menyelesaikan Skripsi ini peneliti banyak mendapatkan bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini perkenankanlah peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.      Ibu Ns. Hj. Deswinda, S.Kep, M.Kes, selaku ketua STIKes Payung Negeri Pekanbaru.
2.      Ibu Ns. Sri Yanti, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.MB, selaku ketua Program Studi Ilmu Keperawatan STIKes Payung Negeri Pekanbaru.
3.      Ibu Ns. Wardah, M.Kes, selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
4.      Ibu Ns. Sri Yanti, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.MB selaku dosen penguji I pada sidang skripsi ini.
5.      Bapak Ns.Dendy Kharisna, S.Kep, M.Kep selaku dosen penguji II pada sidang skripsi ini.
6.      Seluruh Staf Dosen STIKes Payung Negeri Pekanbaru yang telah banyak memberi pengetahuan dan bimbingan kepada peneliti selama mengikuti perkuliahan di STIKes Payung Negeri Pekanbaru.
7.      Teristimewa kepada Mamak, Ayah, Makdang, Kakak, Bulek, Mbah, Amik, ichak, abik, rungkik dan seluruh keluarga yang telah memberikan moril, materil, doa, dan motivasi kepada peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
8.      Terimakasih dan Love you all pada sahabat-sahabat terutama cangkeman Squad elinda wani, khomisah, mayumi, nur’ainy, rinjani, nurfadzila, auni, sahabat-sahabat SMK yulia, tika dan teman-teman seperjuangan Mahasiswa/I Program Studi SI keperawatan Payung Negeri Pekanbaru yang telah memberikan motivasi, masukan dan kebersamaannya selama ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyanto, A. E. (2016). Tingkat stress pada remaja di lapas anak Blitar. Jurnal Psikologi Indonesia, 5(03), 226-231
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional [BKKBN]. (2016). Hasil penelitian dan pengembangan kependudukan. Diperoleh tanggal 10 April 2019 dari https://www.bkkbn.go.id/pages/hasil-penelitian-bkkbn.
Badan Pusat Statistik [BPS]. (2017). Indeks kebahagiaan. Diperoleh 09 Maret 2019 dari https://www.bps.go.id/publication//indeks-kebahagiaan-2017.html.
Budiningsih, N. (2015). Pengaruh big five personality dan religiusitas terhadap agresivitas pada santriwan dan santriwati SMA LA TANSA Banten. Diperoleh tanggal 5 Juli 2019 dari reository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/39550. pdf.
Desmita. (2010). Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
DiFabio, A., & Kenny, M. E. (2018). Academic relational civility as a key resource for sustaining well-being. Sustainability (Switzerland), 10(6), 1–13. doi:10.3390/su10061914.
Direktorat Jendral Permasyarakatan [DITJENPAS]. (2019). Status pelaporan klasifikasi perKanwil. Diperoleh 25 April 2019 dari http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/status pas/daily.
Diananta. 2012. Perbedaan masalah mental dan emosional berdasarkan latarbelakang pendidikan agama. Diperoleh 8 Maret 2019 dari hhtp://download.portalgaruda.org/article.php.article=73772&val=4695.
Engger. (2015). Adaptasi Ryff psychological well-being scale dalam konteks Indonesia Universitas Sanatha Darma. Diperoleh tanggal 17 Maret 2019 dari https://repository.usd.ac.id/103.
Friedman, H. S., & Kern, M. L. (2014). Personality, well-being, and health. Annual review of psychology, 65(7), 719-742. doi:10.1146/annurev-psych-010213-115123.
Feldman, P, O. (2009). Human development perkembangan manusia. Edisi 10. Jakarta: Salemba Medika.
Gao, J. & Mclellan, R. (2018). Using Ryffs scales of psychological well being in adolescnts in mainland china. Diperoleh tanggal 14 Maret 2019 dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29678202.
Juntika, A.,& Agustin, m. (2011) Dinamika perkembangan anak dan remaja. Bandung: Refika Aditama.
Karim, S. (2018). Hubungan antara dimensi big five personality dan religiusitas dengan subjective well-being karyawan relationship between big five personality and religiusity dimensions with employees subjective well-being. Jurnal Ecopsy, 5, 36–42.
Kelana, D, K. (2011). Metodologi penelitian keperawatan; panduan melaksanakan dan menerapkan hasil penelitian. Jakarta Timur: Trans Info Media.
Kementrian Kesehatan [Kemenkes]. (2017). Infodatin reproduksi remaja. Diperoleh tanggal 5 Maret 2019 dari http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin.pdf.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia [KPAI]. (2019). Tabulasi Data Perlindungan Perlindungan Anak. Diperoleh dari http://www.kpai.go.id.

Nasyroh, M., & Wikansari, R. (2017). Hubungan antara kepribadian (big five personality model) dengan kinerja karyawan relationship between personality (big five model) and employee job. Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia , Politeknik APP Jakarta ,. Jurnal Ecopsy, 4(1), 10–16.
Nasyroh, M., & Wikansari, R. (2018). Hubungan antara kepribadian (big five personality model) dengan kinerja karyawan. Jurnal Ecopsy, 4(1), 10. doi:10.20527/ecopsy.v4i1.3410.
Notoatmojo, S. (2012). Metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Primada, & Fadhillah, A. (2016). Hubungan antara psychological well-being dan happiness pada remaja di pondok pesantren therelationship between psychological well-being and happinessin adolescentsat pondok pesantren. Jurnal Ilmiah Psikologi, 9(1), 69–79.
Pervin, L, A., Cervone, D., John, O, P. (2010). Psikologi keperibadian: Teori dan penelitian. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Pratama. A, F. (2016). Kesejahteraan psikologi pada narapidana di lembaga pemasyarakatan kelas II A Sragen. Diperoleh tanggal 01 juni 2019 dari eprints.ums.ac.id/40994.pdf
Rahmawati, Zulmi, & Wilda. (2018). Pengaruh the big five personality terhadap penyesuaian diri pada remaja di pondok pesantren at-tanwir bojonegoro Universitas Muhammadiyah Malang. Diperoleh tanggal 12 Maret 2019 dari http://eprints.umm.ac.id/40637/1/Script.pdf
Ramdhani, N. (2012). Adaptasi bahasa dan budaya inventori big five. Jurnal Psikologi, 39(2), 189 – 207.
Ramdhani, N. (2017). Adaptasi bahasa dan budaya skala psychological well-being Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diperoleh tanggal 16 April 2019 dari https://www.researchgate.net/publication/313599062.
Rammstedt, B., & John, O. P. (2017). Big five inventory. Encyclopedia of personality and individual differences. Journal of Happiness Studies, 2, 1–4. doi.org/10.1007/978-3-319-28099-8_445-1.
Rukminto, A. (2018). Kesejahteraan sosial. Edisi 2. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Rohmah, N. (2017). Pengaruh forgiveness terhapap psikological well being mahasiswa baru. Psikological Well Being Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Diperoleh 16 April 2019 dari http://etheses.uin-malang.ac.id/9057/1/13410176.pdf.
Ryff, C. (1989). Ryff ’ s Psychological well-being scales ( PWB ), 42 Item version please indicate your degree of agreement ( using a score ranging from 1-6 ) to the following, 3–5. Diperoleh tanggal 6 April 2019 dari http://danrobertsgroup.com/wp-content/uploads/2018/02/PWB-Scale.pdf.
Sarlito W. S. (2018). Psikologi remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sarwono, S.W (2012). Psikologi remaja. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa.
Saryono. (2011). Metodologi penelitian kesehatan penuntun praktis bagi pemula. Edisi 4. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Sari, N. P. (2018). Pengaruh keseimbangan kehidupan bekerja terhadap kesejahteraan psikologis Universitas Sumatra Utara. Diperoleh tanggal 6 April 2019 dari http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/7476.
Sivagurunathan, C., Umadevi, R., Rama, R., & Gopalakrishnan, S. (2015). Adolescent health: Present status and its related programmes in India. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 9(3), 1–6. doi: 10.7860/JCDR/2015/11199.5649.
Sumiati. (2009). Kesehatan jiwa remaja dan konseling. Jakarta: Trans Info Media.
Susilo & Suyono. (2015). Metodologi penelitian cross sectional kedokteran dan kesehatan. Klaten Selatan: Boss Script.
Syamsu Yusuf. (2011). Teori kepribadian. Bandung: Remaja Rodaskarya.
Tasema, J, K. (2018). Hubungan antara psychological well being. Jurnal Maneksi, 7(1), 39–46.
United Nations Children's Fund [UNICEF]. (2017) Data and indicators to measure adolescent health, social development and well-being. Diperoleh dari https://www.unicef-irc.org/adolescent-research-methods.
Wahidah, H, R. (2018). Pembinaan narapidana anak di lembaga pemasyarakatan Universitas Islam Negeri Maulana Ibrahim Malang. Diperoleh tanggal 23 April 2019 dari http://etheses.uin-malang.ac.id/11868/1/14210053.pdf.
World Health Organization [WHO]. (2018). World health statistik: Monitoring for the SDGs sustainable development goals. Diperoleh 15 mei 2019 dari https://www.who.int/gho/publications/world_health_statistics/2018/EN_WHS2018_TOC.pdf.ua=1.
Wulandari, A., & Rehulina, M. (2013). Hubungan antara lima faktor kepribadian ( the big five personality ) dengan makna hidup pada orang dengan human immunodeficiency virus. Jurnal Psikologi Klinis Dan Kesehatan Mental, 02(1), 41–47.
Yulianto. (2016). Badan penelitian dan pengembangan hukum dan HAM. Jakarta : Pohon Cahaya.
Yudianto, F. (2011). Dinamika psychological well being pada narapidana. Diperoleh tanggal 05 juni 2019 dari http://repository.usu.ac.id/26417
Zulmi, R. W. (2018) Pengaru the big five personality terhadap penyesuaian diri pada remaja di pondok pesantren at-tanwir bojonegoro. Diperoleh tanggal 05 juni 2019 dari eprints.umm.ac.id/40637/1/Script.pdf.








Komentar