ANALISIS PERSONALITY
DAN PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA
REMAJA DI LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK
KELAS II KOTA PEKANBARU
Nur
Ayu Rahmadani¹,Wardah²
S1
Keperawatan, STIKes Payung Negeri Pekanbaru, Jl. Dahlia Gg. Irian no.158
ABSTRACT
Personality an
individual forms the way a person responds to an event that is unique, dynamic,
emotionally accompanied by cognitive, and shows the individual's way of managing
his psychological well-being. The psychological well-being obtained by an
individual from his positive evaluation of the past, present, and future shows
that the individual is able to reflect on an event that occurs after overcoming
the problem / self problem so as not to cause emotional symptoms of stress and
depression in the individual. Personality type has five personality dimensions,
namely agreeableness, opposition to
experience, extraversion, consentiousness, neuroticism. The welfare
condition of individual psychology in adolescents has the acceptance of
strengths and weaknesses in themselves as they are, have good life goals, are
able to control the environment positively and directed. The purpose of this
study was to determine the description of Personality and Psychological
Well Being in adolescents that are quantitative in descriptive design.
Conducted at the Special Class II Guidance Institution of Pekanbaru City in May
2019. The number of respondents was 172 people with the sampling technique was purposive sampling. Thepicture personality in the majority of LPKA
has a dimension of agreeableness of
104 people (60.5%). The picture of the psychological
well beingpsychological well-being majority has awhich is 93 people (54.1%).
It is recommended for further research, to use more complex research methods by
looking at the relationships and the most influential factors to see the
personality and psychological well being
in the Special Class II Child Development Institution in Pekanbaru City.
Keywords :
adolescents, personality, psychological well being
References : 47
sources (1989 - 2019)
PENDAHULUAN
Kebahagian adalah keinginan
bagi setiap manusia tidak terkecuali bagi seorang remaja. Kebahagiaan memiliki arti
bahwa keadaan dan perasaan seorang individu yakni berada dalam keadaan senang,
tentram, bebas dari segala sesuatu yang menyusahkan dan tekanan. Konsep
kesejahteraan psikologis individu dimana mampu untuk menerima diri, mencapai
aktualisasi diri, penguasaan sosial dan mencapai pengembangan kepribadian.
Aspek-aspek dapat di nilai dari dimensi penerimaan diri (self acepptance), hubungan positif dengan orang lain (positive relation with other people),
memiliki kemandirian (autonomy),
mampu mengontrol lingkungan (environmental
mastery), tujuan hidup (purpose in
life), dan pertumbuhan diri (personal
growth) (Gao, 2018).
Psychological
Well Being pada diri individu berpotensi memberikan perkembangan psikologi
konsep diri, perkembangan inteligensi, perkembangan sosial, perkembangan peran
gender, perkembangan moral religi. Perubahan yang terjadi memungkinkan individu
untuk menjadikan sebagai sebuah faktor pencegahan bagi perkembangan kepribadian
yang maladaptif. Personality atau
kepribadian menjelaskan sebuah perilaku yang terbentuk dalam beberapa analisis.
Faktor trait yaitu openness to experience
(pencarian, penghargaan dan pengalaman), conscientiousness
(ketahanan, motivasi, kedisiplinan), extraversion
(interaksi, aktivitas, dan kebutuhan stimulus), agreebeleness (orientasi seseorang terhadap rasa empati dan pada
sikap permusuhan), neuroticism (penyesuaian,
kestabilan emosi) (Engger, 2015).
Menurut World Health Organization (2015) Remaja adalah penduduk dengan
rentang usia 10 hingga 19 tahun. Menurut Kementrian Kesehatan (2017), remaja
adalah penduduk dengan rentang usia 10-18 tahun. Sementara itu, menurut Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2017), rentang usia remaja adalah
10-24 tahun dan belum menikah. Sivagurunathan.
et al, (2015) menyatakan bahwa prevalensi remaja di dunia berkisar kurang lebih
berjumlah 1,2 miliar di seluruh dunia, dan sekitar 21% dari populasi India yang
merupakan penduduk terpadat kedua di dunia atau terdapat satu remaja disetiap
enam orang masyarakat. Di Indonesia, menurut Kepala
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (2016) penduduk remaja yang
berusia 10-24 tahun berjumlah kurang lebih terdata 66,3 juta jiwa dari total
penduduk sebesar kurang lebih 258,7 juta yang terdata, sehingga satu di antara
empat penduduk disetiap lingkungan masyarakat adalah remaja.
Berdasarkan hasil penelitian World Health Organzation (2011), masalah
mental emosional yang berkaitan dengan personality
(kepribadian) bagian psikologi sebanyak 140 dari 1000 remaja diatas usia 15
tahun dan untuk usia 4-15 tahun mengalami masalah mental emosional sebanyak 104
dari 1000 anak. Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2017) indeks kesejahteraan psikologi
penduduk remaja dengan usia dibawah 24 tahun. Memiliki 2 indikator yaitu makna
hidup dengan penerimaan diri 77,27%, tujuan hidup 80,71%, hubungan positif
dengan orang lain 70,39%, penguasaan lingkungan 75,52%, kemandirian 70,98%, dan
pengembangan diri 67,86%. Indicator kepuasan hidup pada remaja dengan
lingkungan keluarga 67,87%, kegiatan sosial 69,27% dan pendidikan 60,84%.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan undang-undang mengatur
tentang perlindungan pada individu dibawah usia 18 tahun dan belum menikah.
KPAI telah mencatat 4.885 kasus tindak pidana dan pelanggaran anak diatas 15
tahun. Jumlah ini meningkat dibandingkan pada tahun 2017 yang mencapai angka 4.579
kasus. Jumlah kasus
(remaja) anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) masih menduduki urutan
pertama, yaitu mencapai 1.434 data kasus, disusul dengan kasus terkait keluarga
dan pengasuhan alternatif mencapai 857 kasus. Selanjutnya, pornografi dan
siber mencapai 679 kasus, pendidikan berjumlah 451 kasus, kesehatan dan Narkotika,
Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza) mencapai 364 kasus, trafficking dan
eksploitasi dan mencapai
329 kasus di dominasi oleh remaja siswa pelajar SMP dan SMA baik negeri dan
swasta.
METODE
PENELITIAN
Penelitian ini merupakan
penelitian kuantitatif, dengan rancangan atau desain penelitian deskriptif yaitu dimana penelitian ini
hanya untuk mengetahui analisis personality
dan psychological well being pada
remaja di lembaga pembinaan khusus anak kelas II pekabaru. Penelitian deskriptif
adalah suatu metode penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan atau
menggambarkan suatu fenomena yang terjadi didalam masyarakat (Notoatmojo,
2012).
Lokasi
penelitian ini dilaksanakan di Lapas khusus anak kelas II Kota Pekanbaru. Hal
ini dikarenakan Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru ini
merupakan satu-satunya lapas tempat semua anak yang bermasalah yang ada di
Provinsi Riau dengan hukum pidana negara.
HASIL
PENELITIAN
Penelitian telah dilakukan pada tanggal 20 Mei - 17 Juni
2019 tentang analisis personality dan
psychological well being pada remaja
di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan pada 172 remaja didapatkan hasil penelitian sebagai
berikut.
Analisa Univariat
Analisa univariat digunakan untuk menjabarkan secara deskriptip
mengenai distribusi frekuensi dan proporsi masing-masing variabel yang
diteliti, baik variabel bebas maupun varibel terikat.
1. Karakteristik Responden
a.
Umur Responden
Tabel 4.1
Distribusi Responden
berdasarkan Umur di Lembaga Pembinaan
Khusus Anak Kelas II Kota
Pekanbaru
|
Umur
|
Frekuensi (n)
|
Persentase (%)
|
|
Remaja Awal (10-14 Tahun)
|
1
|
6
|
|
Remaja Pertengahan
(15-19 Tahun)
|
98
|
57,6
|
|
Remaja Akhir (20-24 Tahun)
|
73
|
42,4
|
|
Total
|
172
|
100%
|
Sumber :
Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa sebagian besar remaja
yang menjadi narapidana dan tahanan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II
Kota Pekanbaru berada pada masa remaja pertengahan (usia 15-19 tahun) yaitu
sebanyak 98 orang (57,6%).
b.
Jenis Kelamin
Tabel 4.2
Distribusi Responden
berdasarkan Jenis Kelamin di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota
Pekanbaru
|
JK
|
Frekuensi (n)
|
Persentase (%)
|
|
Laki-laki
|
128
|
74,4
|
|
Perempuan
|
44
|
25,6
|
|
Total
|
172
|
100%
|
Sumber : Analisis Data
Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.2
didapatkan sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak
128 responden dengan persentase sebesar (74,4%).
2.
Data
Khusus
a.
Personality
1)
Extraversion
Tabel 4.3
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Extaversion
di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
|
Extraversion
|
Frekuensi (n)
|
Persentase (%)
|
|
Tinggi
|
93
|
54,1
|
|
Rendah
|
79
|
45,9
|
|
Total
|
172
|
100%
|
Sumber :
Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.3 didapatkan sebagian besar
responden memiliki personality dengan
karakteristik extraversion tinggi
sebanyak 93 responden dengan persentase (54,1%).
2)
Agreeableness
Tabel 4.4
Distribusi Responden
berdasarkan Personality dengan Agreeableness di Lembaga Pembinaan
Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru
|
Agreeableness
|
Frekuensi (n)
|
Persentase (%)
|
|
Tinggi
|
104
|
60,5
|
|
Rendah
|
68
|
39,5
|
|
Total
|
172
|
100%
|
Sumber : Analisis Data
Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.4 didapatkan sebagian besar
responden memiliki personality dengan
karakteristik agreeableness tinggi
sebanyak 104 responden dengan persentase (60,5%).
3)
Conscientiousness
Tabel 4.5
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Conscientiousness
di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru
|
Conscientiousness
|
Frekuensi (n)
|
Persentase (%)
|
|
Tinggi
|
89
|
51,7
|
|
Rendah
|
83
|
48,3
|
|
Total
|
172
|
100%
|
Sumber : Analisis Data
Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.5 didapatkan sebagian besar
responden memiliki personality dengan
karakteristik conscientiousness tinggi
sebanyak 89 responden dengan persentase (51,7%).
4)
Neuroticism
Tabel
4.6
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Neuroticism
di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru
|
Neuroticism
|
Frekuensi (n)
|
Persentase (%)
|
|
Tinggi
|
88
|
51,2
|
|
Rendah
|
84
|
48,8
|
|
Total
|
172
|
100%
|
Sumber : Analisis Data
Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.6 didapatkan sebagian besar
responden memiliki personality dengan
karakteristik neuroticism tinggi
sebanyak 88 responden dengan persentase (51,2%).
5) Openness to
experience
Tabel
4.7
Distribusi Responden berdasarkan Personality dengan Openness
to experience di Lembaga Pembinaan
Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru
|
Openness to experience
|
Frekuensi (n)
|
Persentase (%)
|
|
Tinggi
|
103
|
59,9
|
|
Rendah
|
69
|
40,1
|
|
Total
|
172
|
100%
|
Sumber :
Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.7 didapatkan sebagian besar
responden memiliki personality dengan
karakteristik neuroticism tinggi
sebanyak 103 responden dengan persentase (59,9%).
b.
Psychological
well being
Tabel
4.8
Distribusi Responden berdasarkan Psychological well being di Lembaga Pembinaan Khusus Anak
Kelas II Kota
Pekanbaru
|
Psychologi
well being
|
Frekuensi (n)
|
Persentase (%)
|
|
Tinggi
|
93
|
54,1
|
|
Rendah
|
79
|
45,9
|
|
Total
|
172
|
100%
|
Sumber :
Analisis Data Primer, 2019
Berdasarkan tabel 4.8 didapatkan sebagian besar
responden memiliki psychological well
being dengan karakteristik tinggi sebanyak 93 responden dengan persentase (54,1%).
PEMBAHASAN
1.
Karakteristik
responden
Berdasarkan
uji statistik dapat dilihat bahwa mayoritas usia di lembaga pembinaan khusus
anak sebagian besar responden berada pada rentang usia 15-19 tahun sebanyak 98
orang (57,6%) dengan rata-rata berada pada usia 18 tahun (22,1%). Menurut
Sarlito (2018) usia tersebut termasuk kedalam rentang usia remaja pertengahan
(15-19 tahun), remaja awal (10-14 tahun) dan remaja akhir memasuki dewasa awal
(20-24 tahun) dan belum menikah. Hal ini sejalan dengan Yuliyanto,
(2016) dalam penelitian Badan dan
Pengembangan Hukum dan HAM memaparkan bahwa anak yang berhadapan dengan hukum di LPKA Salemba
berada pada usia 15 tahun sampai dengan 18 tahun.
Sarlito (2018) usia tersebut sering disebut sebagai
masa topan badai (strum and drang),
yang mencerminkan kebudayaan modern yang penuh gejolak akibat pertentangan
nilai-nilai. Usia remaja ini merupakan usia dimana terjadinya tahapan identity dan role confusion, adanya perubahan fisik biologis dan psikologis,
mengakibatkan timbulnya perspektif bahwa remaja terlihat sebagai orang dewasa
tetapi disisi lain belum mencapai masa dewasa. Masa remaja adalah masa
konsolidasi menuju periode dewasa, timbulnya egosentrisme untuk mencari
kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan menemukan pengalaman-pengalaman
baru.
Menurut asumsi peneliti, terkait sebagian besar
rata-rata remaja yang berusia 18 tahun di LPKA Kota Pekanbaru dikarenakan masa
awalnya sebelum remaja memasuki LPKA lebih mendominasi sifat pencarian jati
diri yang dominan terhadap egosentrisme
negatif dalam mengenal diri sendiri terutama adanya pengaruh pada keadaan
lingkungan sosial. Karakteristik remaja tersebut menimbulkan tingkah laku yang
dapat melampaui batas tolerasi untuk orang lain atau lingkungan sekitar
sehingga melanggar norma-norma dan hukum Negara. Faktor egosentrisme negatif pada usia tersebut dapat bersumber adanya
perselisihan atau konflik, perceraian, sikap perlakuan anggota keluarga, dan
pergaulan negatif yang tidak menghargai atau menerapkan nilai-nilai moral masyarakat.
Usia tersebut berdampak pada keputusan-keputusan yang dibuat oleh remaja
mengakibatkan berkurangnya kendali terhadap ego dan menyebabkan remaja berada
pada masa sulit yang sering disebut sebagai kenakalan remaja yang dapat
berhubungan dengan hukum Negara.
Distribusi karakteristik responden tentang jenis
kelamin pada hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas berjenis kelamin
responden laki-laki yaitu sebanyak 128 responden dengan persentase (74,4%) dan
perempuan berjumlah 44 responden dengan persentase (25,6%). Menurut Ariyanto
(2016) data hasil penelitian yang dilakukan di LPKA Blitar, menunjukkan bahwa
remaja laki-laki lebih mendominasi di LPKA dari pada remaja perempuan.
Menurut asumsi peneliti, terkait jenis kelamin
laki-laki mempunyai fungsi realisasi diri (entelechy)
lebih menonjol dibandingkan perempuan dan sering memutuskan kehendaknya
sendiri. Berbeda dengan perempuan, mereka cenderung untuk lebih berfikir
terhadap reaksi jangka panjang akibat setiap keputusan yang ditentukannya.
Tingkah laku jenis kelamin laki-laki lebih implusif
dalam berperilaku dikarnakan tidak mampu berfikir jernih ketika mengalami
tekanan psikologis. Sementara itu perempuan lebih mampu mengontrol tindakan dan
perilakunya dikarenakan perempuan lebih berhati-hati ketika dalam kondisi
stress. Perempuan memiliki kecendrungan untuk memproses tekanan psikologis atau
suatu kejadian dibandingkan laki-laki.
2.
Personality
Hasil penelitian menunjukkan bahwa personality
remaja di LPKA Pekanbaru sebagian besar memiliki persentase yang sama tinggi
secara signifikan yaitu tipe kepribadian yang tinggi terdapat pada dimensi agreeableness (60,5%) sebanyak 104 responden. Dimensi lainnya
seperti openness to experience
(59,9%) sebanyak 103 respoden, extraversion
(54,1%) sebanyak 93 responden, conscientiousness
(51,7%) sebanyak 89 responden, neuroticism
(51,2%) sebanyak 88 responden. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh dimensi agreeableness sebagai kepribadian yang
paling banyak dimiliki oleh remaja yang ada di LPKA. Tipe kepribadian ini
memiliki bentuk upaya atau keadaan individu untuk merasa santai dan dapat
bekerja sama dengan orang lain dalam kategori harmoni sosial. Mampu untuk
mengontrol rasa curiga dan mampu untuk menilai keadaan kondisi psikologi
dirinya.
Menurut asumsi peneliti, personality di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota
Pekanbaru tergolong bervariasi. Responden rata-rata mempunyai semua dimensi
dari kepribadian (personality) dengan
karakteristik yang tampak memiliki respon yang berbeda-beda. Hal ini dikarnakan
adanya rasa penyesuaian adaptasi terhadap lingkungan nya dan realita
kehidupannya. Dapat dilihat dari persentase kepribadian yang tinggi pada
dimensi agreeableness, dimana setiap
individu berupaya untuk menciptakan harmoni dalam dirinya terutama pada
lingkungan baru yang individu alami.
Proses penyesuaian tersebut membutuhkan waktu yang
berbeda-beda pada setiap remaja, dimana kondisi awal peneliti berasumsi bahwa
remaja diawal memiliki kepribadian yang beragam. Di tambah lagi LPKA memiliki
sistem pembinaan berbasis pendidikan noninformal dan formal, setiap LPKA akan
melakukan pembinaan dan memiliki sistem tugas dalam mendidik karakter remaja
sehingga masa remaja yang dilalui di LPKA dapat di lalui dengan lebih
terkontrol oleh pihak yang berwenang sehingga dapat membentuk konsep diri
remaja, membentuk sikap moral dan religi.
3.
Psychological well being
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian
besar responden memiliki tingkat psychological
well being yang tinggi yaitu sebanyak 93 orang (54,1%). Tingkat psychological well being rendah sebanyak
79 orang (45,9%). Hasil tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Tenri, 2018) menyatakan hasil analisis dari psychological well being di LPKA memiliki karakteristik yang
tinggi, bahwa individu mampu untuk menjalani kehidupan yang cukup baik mengenai
aktivitas dan kesejahteraan hidup sehari-hari. Penelitian yang dilakukan oleh
Yudianto, (2011) menyatakan bahwa narapidana yang telah menjalani masa tahanan
lebih dari satu tahun cenderung memiliki penerimaan diri yang baik, hal ini
dipengaruhi oleh dukungan oleh orang sekitarnya.
Adanya adaptasi dari psikologis kepribadian yang baik dilihat dari
kepribadian agreeabelenss membentuk
kesejahteran psikologis remaja yang lebih baik dari sebelumnya. Menyiapkan diri
dari stigma negatif masyarakat tentang dirinya dan mempunyai harapan kembali
melanjutkan hidup dan cita-cita setelah masa tahanan selesai. Karna sejatinya
setiap individu merupakan makhluk sosial yang memiliki perkembangan terhadap
kesejahteraan psikologisnya melalui adapatasi sosial. Berdasarkan hal tersebut
bahwa sebagian besar kesejateraan psikologis tinggi di LPKA dikarenakan adanya
proses adaptasi yang telah dilalui dengan konsep diri yang baik, kondisi fisik
yang baik, serta kemandirian yang baik oleh sebagian besar individu di LPKA
akan mempengaruhi kesejahteraan psikologis remaja. Di dalam LPKA dapat dilihat
bahwa remaja diberikan pola pembinaan, pembentuk kepribadian, dan kemandirian
terutama dalam penyesuaian diri lingkungan, penerimaan diri, memiliki hubungan
dengan orang lain agar memiliki tujuan hidup secara berkala sehingga psikologi
kesejahteraan dapat kembali terarah dan remaja dapat menyiapkan diri dengan
memiliki tujuan hidup untuk melanjutkan masa depannya. Tingkat kesejahteraan
diri remaja juga tidak terlepas dari dukungan anggota keluarga, sesama teman,
terutama pertemanan yang telah tercipta selama di LPKA, dan juga dukungan dari
para petugas LPKA sehingga berperan dalam peningkatan psychological well being remaja narapidana.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian tentang analisis personality dan psychological well being pada remaja di Lembaga Pembinaan Khusus
Anak Kelas II Kota Pekanbaru diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.
Responden di
Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas II Kota Pekanbaru sebagian besar berusia
pada rentang 15-19 tahun sebanyak 98 orang (57,6%) dengan rata-rata usia 18
tahun (22,1%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak 128 orang (74,4%).
2.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa di LPKA sebagian besar personality
dengan dimensi agreeableness
sejumlah 104 orang (60,5%).
Kepribadian (personality) dengan agreeableness menunjukkan bahwa
responden di LPKA memiliki kepribadian yang dapat bekerja sama dengan orang
sekitarnya terutama di LPKA dan mampu menciptakan orientasi personal dengan
orang lain dalam kategori harmoni sosial sehingga mampu untuk mengontrol
keadaan lingkungan.
3.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa psychological well
being sebagian besar memiliki kesejahteraan psikologis tinggi 93 orang
(54,1%). Kesejahteraan psikologis menunjukkan bahwa adanya penerimaan diri yang
baik setelah menjalani masa tahan dalam kurun waktu tertentu sehingga responden
dapat menerima kondisinya sesuai dengan keadaan yang dialami.
UCAPAN
TERIMA KASIH
Dalam penyelesaian menyelesaikan Skripsi ini peneliti banyak
mendapatkan bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini
perkenankanlah peneliti mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Ns.
Hj. Deswinda, S.Kep, M.Kes, selaku ketua STIKes Payung Negeri Pekanbaru.
2. Ibu Ns.
Sri Yanti, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.MB, selaku ketua Program Studi Ilmu Keperawatan
STIKes Payung Negeri Pekanbaru.
3. Ibu Ns.
Wardah, M.Kes, selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan,
arahan, dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Ns.
Sri Yanti, S.Kep, M.Kep, Sp.Kep.MB selaku dosen penguji I pada sidang skripsi
ini.
5. Bapak
Ns.Dendy Kharisna, S.Kep, M.Kep selaku
dosen penguji II pada sidang skripsi ini.
6. Seluruh
Staf Dosen STIKes Payung Negeri Pekanbaru yang telah banyak memberi pengetahuan
dan bimbingan kepada peneliti selama mengikuti perkuliahan di STIKes Payung
Negeri Pekanbaru.
7. Teristimewa
kepada Mamak, Ayah, Makdang, Kakak, Bulek, Mbah, Amik, ichak, abik, rungkik dan
seluruh keluarga yang telah memberikan moril, materil, doa, dan motivasi kepada
peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.
8. Terimakasih
dan Love you all pada sahabat-sahabat
terutama cangkeman Squad elinda wani,
khomisah, mayumi, nur’ainy, rinjani, nurfadzila, auni, sahabat-sahabat SMK
yulia, tika dan teman-teman seperjuangan Mahasiswa/I Program Studi SI
keperawatan Payung Negeri Pekanbaru yang telah memberikan motivasi, masukan dan
kebersamaannya selama ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyanto, A. E. (2016). Tingkat stress pada remaja di
lapas anak Blitar. Jurnal Psikologi
Indonesia, 5(03), 226-231
Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional [BKKBN]. (2016). Hasil penelitian dan pengembangan
kependudukan. Diperoleh tanggal 10 April 2019 dari https://www.bkkbn.go.id/pages/hasil-penelitian-bkkbn.
Badan Pusat Statistik [BPS]. (2017). Indeks kebahagiaan. Diperoleh 09 Maret 2019 dari https://www.bps.go.id/publication//indeks-kebahagiaan-2017.html.
Budiningsih, N. (2015). Pengaruh big five personality dan religiusitas terhadap agresivitas
pada santriwan dan santriwati SMA LA TANSA Banten. Diperoleh tanggal 5 Juli
2019 dari reository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/39550. pdf.
Desmita. (2010). Psikologi perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
DiFabio, A., & Kenny, M. E. (2018). Academic relational
civility as a key resource for sustaining well-being. Sustainability
(Switzerland), 10(6), 1–13. doi:10.3390/su10061914.
Direktorat
Jendral Permasyarakatan [DITJENPAS]. (2019). Status pelaporan klasifikasi perKanwil. Diperoleh 25 April 2019
dari http://smslap.ditjenpas.go.id/public/grl/status
pas/daily.
Diananta. 2012. Perbedaan masalah mental dan emosional berdasarkan latarbelakang
pendidikan agama. Diperoleh 8 Maret 2019 dari
hhtp://download.portalgaruda.org/article.php.article=73772&val=4695.
Engger. (2015). Adaptasi
Ryff psychological well-being scale dalam konteks Indonesia Universitas
Sanatha Darma. Diperoleh tanggal 17 Maret 2019 dari https://repository.usd.ac.id/103.
Friedman, H. S., & Kern, M. L. (2014). Personality,
well-being, and health. Annual review of psychology, 65(7), 719-742.
doi:10.1146/annurev-psych-010213-115123.
Feldman,
P, O. (2009). Human development
perkembangan manusia. Edisi 10. Jakarta: Salemba Medika.
Gao, J. & Mclellan, R. (2018). Using Ryffs scales of psychological well being in adolescnts in mainland
china. Diperoleh tanggal 14 Maret 2019 dari https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29678202.
Juntika, A.,& Agustin, m. (2011) Dinamika
perkembangan anak dan remaja. Bandung: Refika Aditama.
Karim, S. (2018). Hubungan antara dimensi big five
personality dan religiusitas dengan subjective well-being karyawan relationship
between big five personality and religiusity dimensions with employees
subjective well-being. Jurnal Ecopsy, 5, 36–42.
Kelana, D, K. (2011). Metodologi penelitian keperawatan; panduan
melaksanakan dan menerapkan hasil penelitian. Jakarta Timur: Trans Info
Media.
Kementrian Kesehatan [Kemenkes]. (2017). Infodatin reproduksi remaja. Diperoleh tanggal 5 Maret 2019 dari http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin.pdf.
Komisi
Perlindungan Anak Indonesia [KPAI]. (2019). Tabulasi
Data Perlindungan Perlindungan Anak. Diperoleh dari http://www.kpai.go.id.
Nasyroh, M., & Wikansari, R. (2017). Hubungan antara
kepribadian (big five personality model) dengan kinerja karyawan relationship
between personality (big five model) and employee job. Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia , Politeknik APP
Jakarta ,. Jurnal Ecopsy, 4(1), 10–16.
Nasyroh, M., & Wikansari, R. (2018). Hubungan antara
kepribadian (big five personality model) dengan kinerja karyawan. Jurnal
Ecopsy, 4(1), 10. doi:10.20527/ecopsy.v4i1.3410.
Notoatmojo, S. (2012). Metodologi
penelitian kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Primada, & Fadhillah, A. (2016). Hubungan antara
psychological well-being dan happiness pada remaja di pondok pesantren
therelationship between psychological well-being and happinessin adolescentsat
pondok pesantren. Jurnal Ilmiah Psikologi, 9(1), 69–79.
Pervin,
L, A., Cervone, D., John, O, P. (2010). Psikologi
keperibadian: Teori dan penelitian. Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Pratama. A, F. (2016). Kesejahteraan psikologi pada narapidana di lembaga pemasyarakatan kelas
II A Sragen. Diperoleh tanggal 01 juni 2019 dari
eprints.ums.ac.id/40994.pdf
Rahmawati, Zulmi, & Wilda. (2018). Pengaruh the big five personality terhadap penyesuaian diri pada remaja
di pondok pesantren at-tanwir bojonegoro Universitas Muhammadiyah Malang.
Diperoleh tanggal 12 Maret 2019 dari http://eprints.umm.ac.id/40637/1/Script.pdf
Ramdhani, N. (2012). Adaptasi bahasa dan budaya inventori big
five. Jurnal Psikologi, 39(2), 189 – 207.
Ramdhani, N. (2017). Adaptasi
bahasa dan budaya skala psychological well-being Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Surakarta. Diperoleh tanggal 16 April 2019 dari https://www.researchgate.net/publication/313599062.
Rammstedt, B., & John, O. P. (2017). Big five inventory. Encyclopedia of personality and individual
differences. Journal of Happiness
Studies, 2, 1–4.
doi.org/10.1007/978-3-319-28099-8_445-1.
Rukminto, A. (2018). Kesejahteraan sosial. Edisi 2. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
Rohmah, N. (2017). Pengaruh
forgiveness terhapap psikological well being mahasiswa baru. Psikological
Well Being Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Diperoleh
16 April 2019 dari http://etheses.uin-malang.ac.id/9057/1/13410176.pdf.
Ryff, C. (1989). Ryff ’
s Psychological well-being scales ( PWB ), 42 Item version please indicate your
degree of agreement ( using a score ranging from 1-6 ) to the following,
3–5. Diperoleh tanggal 6 April 2019 dari http://danrobertsgroup.com/wp-content/uploads/2018/02/PWB-Scale.pdf.
Sarlito
W. S. (2018). Psikologi remaja.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sarwono,
S.W (2012). Psikologi remaja.
Jakarta: Raja Grafindo Perkasa.
Saryono.
(2011). Metodologi penelitian kesehatan
penuntun praktis bagi pemula. Edisi 4. Yogyakarta: Mitra Cendikia Press.
Sari, N. P. (2018). Pengaruh
keseimbangan kehidupan bekerja terhadap kesejahteraan psikologis Universitas Sumatra Utara. Diperoleh
tanggal 6 April 2019 dari http://repositori.usu.ac.id/handle/123456789/7476.
Sivagurunathan, C., Umadevi, R., Rama, R., &
Gopalakrishnan, S. (2015). Adolescent health: Present status and its related
programmes in India. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 9(3),
1–6. doi: 10.7860/JCDR/2015/11199.5649.
Sumiati.
(2009). Kesehatan jiwa remaja dan
konseling. Jakarta: Trans Info Media.
Susilo
& Suyono. (2015). Metodologi
penelitian cross sectional kedokteran dan kesehatan. Klaten Selatan: Boss
Script.
Syamsu Yusuf. (2011). Teori
kepribadian. Bandung: Remaja Rodaskarya.
Tasema, J, K. (2018). Hubungan antara psychological well
being. Jurnal Maneksi, 7(1), 39–46.
United
Nations Children's Fund [UNICEF]. (2017) Data and indicators to measure adolescent health,
social development and well-being. Diperoleh
dari https://www.unicef-irc.org/adolescent-research-methods.
Wahidah, H, R. (2018). Pembinaan
narapidana anak di lembaga pemasyarakatan Universitas Islam Negeri Maulana
Ibrahim Malang. Diperoleh tanggal 23 April 2019 dari http://etheses.uin-malang.ac.id/11868/1/14210053.pdf.
World Health Organization [WHO]. (2018). World health statistik: Monitoring for the SDGs sustainable development
goals. Diperoleh 15 mei 2019 dari https://www.who.int/gho/publications/world_health_statistics/2018/EN_WHS2018_TOC.pdf.ua=1.
Wulandari, A., & Rehulina, M.
(2013). Hubungan antara lima faktor kepribadian ( the big five personality )
dengan makna hidup pada orang dengan human immunodeficiency virus. Jurnal
Psikologi Klinis Dan Kesehatan Mental, 02(1), 41–47.
Yulianto.
(2016). Badan penelitian dan pengembangan
hukum dan HAM. Jakarta : Pohon Cahaya.
Yudianto, F. (2011). Dinamika psychological well being pada
narapidana. Diperoleh tanggal 05 juni 2019 dari
http://repository.usu.ac.id/26417
Zulmi,
R. W. (2018) Pengaru the big five
personality terhadap penyesuaian diri pada remaja di pondok pesantren at-tanwir
bojonegoro. Diperoleh tanggal 05 juni 2019 dari
eprints.umm.ac.id/40637/1/Script.pdf.
Komentar